Wednesday, January 22, 2020

KONVERGENSI INTERNATIONAL FINANCIAL REPORTING STANDARDS (IFRS) DAN   IMPLIKASINYA TERHADAP  PEMBELAJARAN AKUNTANSI PENGANTAR   DI PERGURUAN TINGGI

KONVERGENSI INTERNATIONAL FINANCIAL REPORTING STANDARDS (IFRS) DAN IMPLIKASINYA TERHADAP PEMBELAJARAN AKUNTANSI PENGANTAR DI PERGURUAN TINGGI

KONVERGENSI INTERNATIONAL FINANCIAL REPORTING STANDARDS (IFRS) DAN

IMPLIKASINYA TERHADAP  PEMBELAJARAN AKUNTANSI PENGANTAR

DI PERGURUAN TINGGI


Oleh:

Andika Yolanda putra

1413010245
Universitas pembangunan “veteran” Jawa Timur


Abstrak

Akuntansi adalah sebuah aktifitas jasa, dimana fungsinya adalah memberikan informasi kuantitatif, terutama informasi mengenai posisi keuangan dan hasil kinerja perusahaan. Sama seperti aktifitas dan disiplin ilmu lainya, akuntansi merupakan produk dari lingkungan. Lingkungan akuntansi terdiri dari kondisi sosial ekonomi, politik-hukum, pembatasan-pembatasan, dan pengaruh yang bervariasi dari waktu ke waktu. Karenanya, teori akuntansi telah berevolusi untuk memenuhi kebutuhan dan pengaruh yang terus berubah. Salah satu perubahan tersebut adalah konvergensi standar akuntansi (PSAK) ke

International Financial Reporting Standards (IFRS). IFRS merupakan standar akuntansi internasional yang diterbitkan oleh International Accounting Standard Board (IASB) yang mengatur standar pelaporan akuntansi untuk semua negara di seluruh dunia. Indonesia sendiri, sebagai salah satu negara anggota G-20 juga tunduk terhadap kesepakatan G-20 untuk melakukan konvergensi IFRS. Untuk itulah Dewan Standar Akuntansi Keuangan Ikatan Akuntan Indonesia (DSAK-IAI), telah berkomitmen untuk melakukan konvergensi standar akuntansi keuangan untuk entitas yang memiliki akuntabilitas publik. Konvergensi ini diharapkan dapat diselesaikan dan mulai diterapkan secara menyeluruh pada tahun 2012. Perubahan ini membawa dampak terhadap pendidikan akuntansi, terutama dalam pembelajaran akuntansi keuangan, termasuk akuntansi pengantar. Berdasarkan hakekat dan tujuan pembelajaran akuntansi pengantar yaitu mengantarkan mahasiswa pada materi akuntansi lanjutan, maka sebaiknya pengenalan IFRS sudah dilakukan pada mata kuliah pengantar, meskipun hanya sebatas hal-hal yang perlu diketahui. Sedangkan penerapan IFRS yang sesungguhnya dan implementasinya (pengukuran, penyajian, dan pelaporannya) akan diberikan pada mata kuliah akuntansi keuangan menengah dan lanjutan. Untuk itu diperlukan kesiapan tenaga pengajar yang memahami konvergensi IFRS untuk mewujudkan pembelajaran akuntansi yang berbasiskan IFRS. Hal ini memerlukan komitmen dan kerja sama tim pengajar di masing-masing institusi agar menghasilkan lulusan yang siap bekerja pada berbagai perusahaan baik perusahaan yang sudah go publik (dengan entitas publik) ataupun perusahaan menengah dan kecil (tanpa entitas publik).

I.       Pendahuluan

Tujuan  akuntansi  secara  keseluruhan  adalah  memberikan  informasi  yang  dapat

digunakan  dalam pengambilan  keputusan ekonomi.  Akuntansi adalah sebuah  aktifitas

jasa,  dimana  fungsinya  adalah  memberikan  informasi  kuantitatif,  terutama  informasi

mengenai posisi keuangan dan hasil kinerja perusahaan. Informasi tersebut nantinya akan

digunakan   oleh    berbagai    pihak    untuk    pengambilan   keputusan,    baik   pihak    internal

(manajemen    perusahaan)   ataupun    pihak    eksternal    (pemerintah,    investor,    pemegang

saham, kreditur, dan lainnya). Kebanyakan sistem akuntansi memang dirancang untuk

dapat memberikan informasi untuk kedua belah pihak (baik internal maupun eksternal).

Sama   seperti   aktifitas   dan    disiplin    ilmu    lainya,   akuntansi    merupakan   produk    dari

lingkungan.  Lingkungan  akuntansi  terdiri  dari  kondisi  sosial  ekonomi,  politik-hukum,

pembatasan-pembatasan, dan pengaruh yang bervariasi dari waktu ke waktu. Karenanya,

teori akuntansi telah berevolusi untuk memenuhi kebutuhan dan pengaruh yang terus

berubah.

Salah   satu    perubahan    tersebut   adalah    konversi   standar   akuntansi    (PSAK)    ke

International Financial Reporting     Standards (IFRS). Munculnya IFRS tak bisa lepas dari

perkembangan global, terutama yang terjadi pada pasar modal. Perkembangan teknologi

informasi (TI) di lingkungan pasar yang terjadi begitu cepat dengan sendirinya berdampak

pada banyak aspek di pasar modal, mulai dari model dan standar pelaporan keuangan,

relativisme  jarak  dalam  pergerakan  modal,  hingga  ketersediaan  jaringan  informasi  ke

seluruh dunia. Disamping itu penyatuan IFRS bukan hanya isu akuntansi, namun juga

bermanfaat   meningkatkan   kualitas   dan   transparansi   laporan   keuangan   di   Indonesia

(Boediono, Jurnal Akuntan Indonesia, Juli 2011:8). IFRS menjadi fenomena global saat ini


karena semakin banyak negara-negara di dunia mengadopsi standar akuntansi internasional ini. Indonesia sendiri, sebagai salah satu negara anggota G-20 juga tunduk terhadap kesepakatan G-20 untuk melakukan konvergensi IFRS. Untuk itulah Dewan Standar Akuntansi Keuangan Ikatan Akuntan Indonesia (DSAK-IAI), telah berkomitmen untuk melakukan konvergensi standar akuntansi keuangan untuk entitas yang memiliki akuntabilitas publik.

Penerapan IFRS di Indonesia harus menggunakan skala prioritas, terutama kepada perusahaan besar yang merupakan perusahaan terbuka. Untuk perusahann kecil dan menengah yang belum dimiliki masyarakat secara luas dan terbatas hanya untuk perusahaan lokal, belum perlu menerapkan IFRS. Hal ini disebabkan karena ada alternatif peraturan SAK-Entitas Tanpa Akuntabilitas Publik (SAK-ETAP) yang diterbitkan DSAK IAI untuk perusahaan skala menengah dan kecil.

Indonesia harus mengadopsi standar akuntansi internasional (International Accounting Standard/IAS) untuk memudahkan perusahaan asing yang akan menjual saham di negara ini atau sebaliknya. Namun demikian, untuk mengadopsi standar internasional itu bukan perkara mudah karena memerlukan pemahaman dan biaya sosialisasi yang mahal. Dengan pengadopsian IFRS memang diperuntukkan sebagai contoh bahwa dalam hidup kita memang mengalami perubahan, dan perubahan ini terjadi akibat adanya perkembangan dari segala aspek.
Disamping itu konvergensi standar akuntansi global IFRS (International Financial Reporting Standards) menuntut terjadinya perubahan terhadap pendidikan akuntansi, termasuk dalam proses pembelajaran dalam mata kuliah Akuntansi Pengantar. Mata kuliah ini diharapkan dapat memberikan pengetahuan dasar tentang akuntansi, sehingga mahasiswa dapat memahami akuntansi secara utuh dan menyeluruh dengan persepsi yang benar. Dilain pihak bahasan dalam akuntansi pengantar hendaknya tidak terlalu rumit, karena diperuntukkan bagi lulusan SMA dari semua jurusan baik akuntansi maupun nonakuntansi yang memiliki pengetahuan akuntansi yang berbeda. Hal ini menimbulkan permasalahan bagaimanakah IFRS itu disajikan dalam bahasan akuntansi pengantar dan apakah sudah semestinya diberikan dalam akuntansi pengantar.

II.    Pembahasan

Pengertian IFRS

Kenapa Indonesia harus beralih ke IFRS (International Financial Reporting Standard)? Apa sebenarnya yang dimaksud dengan IFRS? IFRS merupakan standar akuntansi internasional yang diterbitkan oleh International Accounting Standard Board (IASB). Standar Akuntansi Internasional (International Accounting Standards/IAS) disusun oleh empat organisasi utama dunia yaitu Badan Standar Akuntansi Internasional (IASB), Komisi Masyarakat Eropa (EC), Organisasi Internasional Pasar Modal (IOSOC), dan Federasi Akuntansi Internasioanal (IFAC). Secara garis besar ada empat hal pokok yang diatur


dalam standar akuntansi. Yang pertama berkaitan dengan definisi elemen laporan keuangan atau informasi lain yang berkaitan. Definisi digunakan dalam standar akuntansi untuk menentukan apakah transaksi tertentu harus dicatat dan dikelompokkan ke dalam aktiva, hutang, modal, pendapatan dan biaya. Yang kedua adalah pengukuran dan penilaian. Pedoman ini digunakan untuk menentukan nilai dari suatu elemen laporan keuangan baik pada saat terjadinya transaksi keuangan maupun pada saat penyajian laporan keuangan (pada tanggal neraca). Hal ketiga yang dimuat dalam standar adalah pengakuan, yaitu kriteria yang digunakan untuk mengakui elemen laporan keuangan sehingga elemen tersebut dapat disajikan dalam laporan keuangan. Yang terakhir adalah penyajian dan pengungkapan laporan keuangan. Komponen keempat ini digunakan untuk menentukan jenis informasi dan bagaimana informasi tersebut disajikan dan diungkapkan dalam laporan keuangan. Suatu informasi dapat disajikan dalam badan laporan (Neraca, Laporan Laba/Rugi) atau berupa penjelasan (notes) yang menyertai laporan keuangan (htpp/warta_ekonomi.blogspot.com/2010/11/Pengertian-IFRS, diakses tanggal 24 September 2011)
Munculnya IFRS tak bisa lepas dari perkembangan global, terutama yang terjadi pada pasar modal. perkembangan teknologi informasi (TI) di lingkungan pasar yang terjadi begitu cepat dengan sendirinya berdampak pada banyak aspek di pasar modal, mulai dari model dan standar pelaporan keuangan, relativisme jarak dalam pergerakan modal, hingga ketersediaan jaringan informasi ke seluruh dunia. Dengan kemajuan dan kecanggihan TI pasar modal jutaan atau bahkan miliaran investasi dapat dengan mudah masuk ke lantai pasar modal di seluruh penjuru dunia. Pergerakan mereka tak bisa dihalangi teritori negara. Perkembangan yang mengglobal seperti ini dengan sendirinya menuntut adanya satu standar akuntansi yang dibutuhkan baik oleh pasar modal atau lembaga yang memiliki agency problem.

Di tiap kawasan, penyusunan standar akuntansi selalu melalui tahapan-tahapan yang cukup panjang. Di AS, misalnya, pada awalnya standar akuntansi ditentukan oleh masing-masing manajemen perusahaan dengan pertimbangan yang membutuhkan standar tersebut memang pihak manajemen. Era berganti, standar kemudian ditentukan kalangan profesi yang tergabung dalam asosiasi. Pertimbangannya, pihak profesilah yang bertugas menyusun dan mengaudit laporan keuangan. Barulah, yang mutakhir, yang diacu adalah US GAAP yang dibuat oleh FASB. Saat ini, terdapat dua kekuatan besar di bidang standar akuntansi, yaitu US-GAAP dan IFRS yang sebelumnya dikenal sebagai International Accounting Standard Committee (IASC). IASC dibentuk pada 1973 oleh badan-badan atau asosiasi-asosiasi profesi dari negara-negara Australia, Kanada, Perancis, Jerman, Jepang, Meksiko, Belanda, dan Inggris. Komite ini kemudian menyepakati standar akuntansi internasional yang dikenal sebagai IAS. Inilah yang menjadi cikal bakal munculnya IFRS.

Agency Problem adalah masalah jarak antara Principle dan agent yang dalam relasi membutuhkan jembatan antara pemilik dan buruh atau pekerja yang disebut agency


relation, yaitu informasi. Informasi adalah berupa laporan tentang aset, resources, dan lainnya yang berhubungan dengan keadaan perusahaan yang dibuat oleh agent dan diserahkan kepada principles (pemilik). Biaya yang dikeluarkan untuk menjaga hubungan baik antara principles dan agent disebut agency cost. Fenomena inilah yang kemudian mendorong International Accounting Standard Boards (IASC) melakukan percepatan harmonisasi standar akuntansi internasional melalui apa yang disebut IFRS.

Memang, hingga saat ini IFRS belum menjadi one global accounting standard. Namun standar ini telah digunakan oleh lebih dari 150-an negara, termasuk Jepang, China, Kanada dan 27 negara Uni Eropa. Sedikitnya, 85 dari negara-negara tersebut telah mewajibkan laporan keuangan mereka menggunakan IFRS untuk semua perusahaan domestik atau perusahaan yang tercatat (listed). Bagi Perusahaan yang go international atau yang memiliki partner dari Uni Eropa, Australia, Russia dan beberapa negara di Timur Tengah memang tidak ada pilihan lain selain menerapkan IFRS.

Proses yang panjang tersebut akhirnya menjadi apa yang disebut IFRS, yang merupakan suatu tata cara bagaimana perusahaan menyusun laporan keuangannya berdasarkan standar yang bisa diterima secara global. Jika sebuah negara beralih ke IFRS, artinya negara tersebut sedang mengadopsi bahasa pelaporan keuangan global yang akan membuat perusahaan (bisnis) bisa dimengerti oleh pasar dunia. Namun, beralih ke IFRS bukanlah sekedar pekerjaan mengganti angka-angka di laporan keuangan, tetapi mungkin akan mengubah pola pikir dan cara semua elemen di dalam perusahaan. (Akuntan Indonesia, edisi no 17, Juni, 2009 dalam hepiprayudi.wordpress.com/2009/10/04, diakses 25 September 2011)

Sebenarnya apakah manfaat penerapan IFRS di Indonesia pada khususnya dan di Dunia pada umunya. Iqbal, Melcher dan Elmallah (1997:18) mendefinisikan akuntansi internasional sebagai akuntansi untuk transaksi antar negara, pembandingan prinsip-prinsip akuntansi di negara-negara yang berlainan dan harmonisasi standar akuntansi di seluruh dunia. Suatu perusahaan mulai terlibat dengan akuntansi internasional adalah pada saat mendapatkan kesempatan melakukan transaksi ekspor atau impor. IFRS (Internasional Financial Accounting Standard) adalah suatu upaya untuk memperkuat arsitektur keungan global dan mencari solusi jangka panjang terhadap kurangnya transparansi informasi keuangan.

Tujuan IFRS adalah memastikan bahwa laporan keuangan interim perusahaan untuk periode-periode yang dimaksukan dalam laporan keuangan tahunan, mengandung informasi berkualitas tinggi yang transparan bagi para pengguna dan dapat dibandingkan sepanjang peiode yang disajikan, menyediakan titik awal yang memadai untuk akuntansi yang berdasarkan pada IFRS, dan memberikan manfaat untuk para pengguna yang lebih besar dari biaya yang dikeluarkan. Sedangkan manfaat dari adanya suatu standard global:


1.   pasar modal menjadi global dan modal investasi dapat bergerak di seluruh dunia tanpa hambatan berarti. Standar pelaporan keuangan berkualitas tinggi yang digunakan secara konsisten di seluruh dunia akan memperbaiki efisiensi alokasi local.

2.   investor dapat membuat keputusan yang lebih baik

3.   perusahaan-perusahaan dapat memperbaiki proses pengambilan keputusan mengenai merger dan akuisisi
4.   gagasan terbaik yang timbul dari aktivitas pembuatan standard dapat disebarkan dalam mengembangkan standard global yang berkualitas tertinggi

Kebutuhan Indonesia untuk turut serta melakukan program konverjensi tampaknya

sudah menjadi keharusan jika kita tidak ingin tertinggal. Sehingga, dalam perkembangan penyusunan standar akuntansi di Indonesia oleh Dewan Standar Akuntansi Keuangan (DSAK) tidak dapat terlepas dari perkembangan penyusunan standar akuntansi internasional yang dilakukan oleh International Accounting Standards Board (IASB). Standar akuntansi keuangan nasional saat ini sedang dalam proses secara bertahap menuju konvergensi secara penuh dengan International Financial Reporting Standards yang dikeluarkan oleh IASB.

Banyaknya standar yang harus dilaksanakan dalam program konvergensi ini menjadi tantangan yang cukup berat bagi DSAK IAI periode 2009-2012. Implementasi program ini akan dipersiapkan sebaik mungkin oleh IAI. Dukungan dari semua pihak agar proses konvergensi ini dapat berjalan dengan baik tentunya sangat diharapkan. Untuk hal-hal yang tidak diatur standar akuntansi internasional, DSAK akan terus mengembangkan standar akuntansi keuangan untuk memenuhi kebutuhan nyata di Indonesia, terutama standar akuntansi keuangan untuk transaksi syariah, dengan semakin berkembangnya usaha berbasis syariah di tanah air. Landasan konseptual untuk akuntansi transaksi syariah telah disusun oleh DSAK dalam bentuk Kerangka Dasar Penyusunan dan Penyajian Laporan Keuangan Syariah. Hal ini diperlukan karena transaksi syariah mempunyai karakteristik yang berbeda dengan transaksi usaha umumnya sehingga ada beberapa prinsip akuntansi umum yang tidak dapat diterapkan dan diperlukan suatu penambahan prinsip akuntansi yang dapat dijadikan landasan konseptual. Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan untuk transaksi syariah akan dimulai dari nomor 101 sampai dengan 200.

Hakekat Akuntansi Pengantar

Akuntansi Pengantar merupakan salah satu mata kuliah Akuntansi yang memfokuskan pembelajaran pada implementasi siklus akuntansi dalam perusahaan jasa, dagang dan manufaktur. Mata kuliah ini diharapkan dapat mengenalkan akuntansi secara utuh dan menyeluruh pada tingkat pengantar. Apalagi bagi mahasiswa-mahasiswa yang baru pertama kali mendapatkan pelajaran akuntansi, dalam hal ini mereka-mereka yang berasal dari lulusan nonakutansi (IPA,TI,Pariwisata,dll). Mengenalkan dan memahamkan pengetahuan


baru kepada pemula bukanlah hal yang mudah. Tidak terkecuali mengenalkan dan memahamkan pengetahuan akuntansi secara utuh kepada mahasiswa baru di Perguruan Tinggi. Akuntansi merupakan pelajaran yang menuntut penalaran dan pemahamannya, ini menyebabkan tidak jarang mahasiswa yang lulusan non akuntansi seperti IPA akan mengalami kesulitan di akuntansi pengantar namun akan bagus atau tidak mengalami kesulitan dalam akuntansi lanjutan. Demikian sebaliknya, mereka yang berasal dari lulusan jurusan akuntansi akan lebih memahami akuntansi pengantar, namun menemui kesulitan dalam akuntansi lanjutan. Keadaan ini menuntut pengetahuan akuntansi yang dikenalkan pada tingkat pengantar diberikan secara utuh dan menyeluruh agar pengetahuan akuntansi dapat dipahami dengan persepsi yang semestinya. Hal ini diharapkan tujuan pembelajaran akuntansi pengantar yaitu mengantarkan mahasiswa untuk memahami akuntansi lanjutan dapat tercapai.

Akuntansi pengantar pada umumnya diberikan dalam dua mata kuliah, yaitu akuntansi pengantar I dan akuntansi pengantar II. Umumnya masing-masing mata kuliah ini memiliki bobot minimal 3 sks dan muncul di awal semester perkuliahan dalam kurikulum. Akuntansi pengantar I menitik beratkan pada siklus akuntansi. Siklus akuntansi merupakan urutan proses sistematis yang terdiri dari 3 tahap, yaitu:

1.   Tahap penyiapan transaksi; Tahap penyiapan meliputi fungsi pengidentifikasian, pengukuran transaksi, dan pendokumentasian transaksi;

2.   Tahap pencatatan transaksi; Tahap pemrosesan berupa aktivitas pencatatan yang meliputi fungsi utama penjurnalan dan pemindah-bukuan, dan
3.   Tahap penyajian informasi; Tahap pengoutputan meliputi rangkaian aktivitas untuk menyajikan informasi keuangan. Siklus akuntansi tersebut secara lengkap dapat dilihat dalam Tabel 1 berikut.




Tabel 1. Siklus Akuntansi Keuangan




SELAMA PERIODE BERJALAN

A.       Penginputan & Pemrosesan

1.     Pengidentifikasian Transaksi


02. Pengukuran

Transaksi


03. Pendokumentasian

Transaksi


04. Peringkasan transaksi (Penjurnalan/Journalizing)


05. Pengklasifikasian transaksi (Pemindah-bukuan/Posting)


PADA AKHIR PERIODE

B.  Penyusunan Laporan Keuangan

1.     Pembuatan Daftar Saldo sebelum Penyesuaian (Unadjusted trial balances)

2.     Pencatatan Penyesuai, termasuk pencatatan pengoreksi (Penjurnalan & Pemindah-bukuan)

03. Pembuatan Daftar Saldo setelah Penyesuaian (Adjusted trial balances)

4.    Penyusunan Laporan Laba Rugi


5.     Pencatatan Penutup (Penjurnalan & Pemindah-bukuan)

6.     Penyusunan Laporan Perubahan Ekuitas, Laporan Posisi Keuangan & Laporan Arus Kas

7.    Pencatatan Pembalik, jika diperlukan (Penjurnalan & Pemindah-bukuan)







01. PERUSAHAAN SEBAGAI ENTITAS

(Diadaptasi dari Soni Warsono, akuntansi dan IFRS, makalah)

Untuk mata kuliah Akuntansi Pengantar 2 akan dibahas mengenai perlakuan akuntansi terhadap pos-pos yang terdapat dalam neraca seperti kas, piutang, persediaan barang dagang, investasi sementara, aktiva tetap, dan hutang baik hutang jangka panjang, maupun jangka pendek.
Berdasarkan paparan materi dalam akuntansi pengantar I dan akuntansi pengantar 2, dapat dilihat bahwa cakupan materi-materi tersebut cukup luas dan kompleks. Sementara ini sangat sedikit literatur yang membahas materi akuntansi pengantar yang berbasiskan IFRS. Disamping ada beberapa pendapat yang memang mengatakan bahwa IFRS belum perlu dikenalkan dalam bahasan akuntansi pengantar. Namun dilihat dari hakekat tujuan pembelajaran akuntansi pengantar maka sebaiknya pengenalan IFRS sudah dilakukan pada mata kuliah pengantar, meskipun hanya sebatas hal-hal yang perlu


diketahui. Sedangkan penerapan IFRS yang sesungguhnya dan implementasinya (pengukuran, penyajian, dan pelaporannya) akan diberikan pada mata kuliah akuntansi keuangan menengah dan lanjutan. Dalam paparan berikutnya akan disajikan materi-materi yang kiranya dapat dimasukkan atau diselipkan dalam pembelajaran akuntansi pengantar.

Penerapan IFRS Dalam Materi Pembelajaran Akuntansi Pengantar

Seperti pada paparan di atas penerapan IFRS membawa dampak beragam perubahan, baik perubahan yang sebatas bersifat administratif maupun yang bersifat substantif. Untuk itulah diperlukan peran perguruan tinggi untuk terus memperbaharui materi-materi akuntansi pengantar yang selama ini diberikan. Tidak dipungkiri keluar dari zona nyaman itu adalah sesuatu yang sulit, dalam hal ini kita telah terbiasa untuk mengajarkan materi akuntansi keuangan yang berdasarkan PSAK yang belum mengadopsi IFRS kepada mahasiswa. Namun urgensi konvergensi IFRS di Indonesia yang diharapkan rampung dan telah diterapkan pada tahun 2012 memaksa kita sebagai akademisi untuk mau tidak mau mengajarkan materi IFRS. Meskipun tidak semua lulusan dapat ditampung pada perusahaan-perusahaan yang sudah go-publik (dengan entitas publik). Namun pengetahun IFRS wajib dimiliki oleh para lulusan.

Untuk itu berikut dipaparkan materi-materi dalam akuntansi pengantar yang menyesuaikan dengan IFRS (dikutip dari Slamet Sugiri, makalah Materi Bahasan Akuntansi Berbasis IFRS). Materi tersebut diambil dari buku Financial Accounting IFRS Edition dengan Copyright © 2011 oleh John Wiley & Sons, Inc karya Weygandt, Kimmel, dan Kieso (2011). Berbeda dari buku lama mereka yang sudah terbit sampai edisi ke-9 dengan judul Accounting Principles, judul buku yang baru ini menggunakan kata-kata financial accounting, sebab buku ini memang secara spesifik mengantarkan ke akuntansi keuangan saja. Sedangkan untuk keperluan materi akuntansi keuangan menengah, Kieso, Weygandt, dan Warfield (2011 menerbitkan buku berjudul Intermediate Accounting IFRS Edition, Voluma 1 dan Voluma 2, dengan Copyright © 2011 oleh John Wiley & Sons, Inc, dan berikut ringkasan materi yang perlu kiranya ditambahkan atau dikurangkan pada materi sebelumnya

Pada chapter 1, Accounting in Action, pada pembahasan ini yang perlu ditambahkan adalah adanya pengetahuan mengenai IFRS. Dalam hal ini diperlukan pemahaman mahasiswa mengenai standar akuntansi keuangan di Indonesia yang sedang dalam proses konvergensi IFRS. Pada subjudul Measurement Principles: tambahkan prinsip fair value. Pada subjudul Financial Statements: tambahkan pengenalan singkat tentang statemen keuangan lengkap menurut PSAK No. 1 Penyajian Laporan Keuangan (Revisi 2009). Pada

Chapter 3 Adjusting the Accounts perlu ditambahkan pemahaman mahasiswa dalam melakukan penyesuaian untuk proses penilaian ke fair value. Ambillah sebagai contoh, misalnya, penyesuaian jika terdapat kenaikan nilai surat berharga. Hal ini penting agar


mahasiswa sejak dini mengetahui implementasi prinsip fair value. Untuk Chapter 6 Inventories hal yang baru (IFRS): (a) tidak mengizinkan metoda LIFO; (b) penilaian menggunakan lower of cost or net realizable value. Pada Chapter 9 Plant Assets, Natural

Resources, and Intangible Assets, terdapat beberapa tambahan penting, antara lain (a)

Revising Periodic Depreciation: dalam hal ini managemen wajib secara periodik mereview depresiasi tahunan. Jika estimasi tidak memadai lagi, managemen harus merevisi dan memperlakukan perubahan estimasi ini secara prospektif, (b) Revaluation of Plant Asset: Hal yang baru adalah bahwa perusahaan boleh memilih model kos dan model revaluasi untuk mengukur atau menilai aset setelah pengakuan awal, (c) Research and Development Costs. Hal yang baru adalah bahwa research costs harus di-expense-kan pada perioda pengeluaran, sedangkan development costs dikapitalisasi jika telah memenuhi kriteria tertentu. Salah satu kriterianya adalah technological feasibility, (d) goodwill tidak lagi diamortisasi, melainkan dilakukan pengujian impairment (hasil dari proses penilaian) atas goodwill. Jika terdapat impairment, maka diakui rugi. Untuk Chapter 10 Liabilities. Adapun hal-hal yang perlu ditekankan antara lain, (a) nyatakanlah bahwa sebagian liabilitas adalah liabilitas keuangan, sedangkan sebagian lainnya bukan, (b) IFRS dan U.S. GAAP mengklasifikasi liabilitas menjadi liabilitas jangka pendek dan liabilitas jangka panjang. Namun, jika dasar likuiditas menyediakan informasi yang lebih bermanfaat, maka IFRS mengizinkan klasifikasi liabilitas berdasarkan likuiditasnya, (c) IFRS menggunakan istilah provision dengan makna estimated liabilities, (d) IFRS menggunakan istilah contingent liabilities hanya untuk possible obligations yang tidak diakui dalam statemen keuangan tetapi diungkapkan jika kriteria tertentu terpenuhi. Pada Chapter 12 Investments, dalam hal ini yang perl ditekankan adalah penggunaan fair value untuk menilai sekuritas, dengan menggunakan kategori apakah termasuk (a) fair value through profit or loss, (b) available-for-sale, dan (c) held-to-maturity.

Untuk pembahasan mengenai laporan laba rugi (Income Statement) dan neraca (balance sheet) saja, dapat dilihat pada Chapter 4 Income Statement and Related Information
(buku Kieso, Weygandt, dan Warfield, 2011 Intermediate Accounting IFRS Edition, Voluma 1). Dalam pembahasan materi ini ada beberapa hal yang harus diperhatikan antara lain:

1.    Istilah income statement diganti statement of comprehensive income.

2.    Kandungan statemen laba-rugi komprehensif adalah recognized income (disebut juga profit or loss ataupun net income) dan other comprehensive income (OCI).

3.    Laba komprehensif dapat dilaporkan dalam (1) laporan laba komprehensif tunggal, berisi laba rugi dan laba komprehensif lain; atau (2) dalam dua laporan terpisah: (a) laporan laba-rugi, berisi laba rugi, dan (b) laporan laba rugi komprehensif, berisi (i) baris terakhir laporan laba rugi, dan (ii) laba rugi komprehensif lain.

4.    Dalam other comprehensive income (OCI) terdapat pos penyesuaian reklasifikasi. Penyesuaian reklasifikasi adalah pentransferan untung (rugi) belum terealisasi perioda sekarang atau perioda lalu ke untung (rugi) terealisasi pada periode sekarang, atau pos-


pos yang diakui di Profit & Loss (PL) periode sekarang yang pada periode sekarang &

sebelumnya diakui dalam OCI.

5.    Pengungkapan bahwa statemen laba rugi komprehensif merupakan salah satu ukuran kinerja entitas—bukan kinerja managemen.
6.    Konsekuensi dari nomor 3 di atas, klasifikasi extraordinary items (keuntungan dan kerugian di luar kegiatan operasi/pos-pos luar biasa) tidak diperkenankan lagi.

7.    Terdapat ketentuan tentang pos-pos minimum yang harus diungkapkan.

8.    Harus disajikan informasi tentang laba-rugi dan laba rugi-komprehensif yang teratribusikan ke pemegang saham induk dan yang teratribusikan ke pemegang saham non-pengendali. Ini khusus bagi statemen laba rugi komprehensif perusahaan kelompok (group).

Untuk Chapter 5Statement of Financial Position and Statement of Cash Flows. Dalam

hal ini terdapat beberapa perubahan antara lain:

a.   Statemen posisi keuangan (SPK):

a.  Istilah balance sheet (neraca) diganti dengan istilah statement of  financial position

(laporan posisi keuangan).

b.  Terdapat aturan minimum line items yang harus diungkapkan di SPK.

c.   Tidak seperti IAS No. 1 Presentation of Financial Position, PSAK No. 1 tidak menyertakan biological assets sebagai anggota himpunan pos-pos minimum.
d.  Format dan urutan SPK tidak diatur

e.   Aset diklasifikasi ke dalam aset lancar dan aset taklancar; liabilitas menjadi liabilitas jangka pendek dan liabilitas jangka panjang.

f.    Jika likuiditas dianggap lebih relevan dan andal, perusahaan menyajikan aset dan liabilitas berdasar urutan likuiditasnya.
g.   Istilah estimated liabilities diganti dengan provision.

h.  Informasi tertentu wajib diungkapkan di lembar muka SPK, sedangkan informasi tertentu lainnya boleh diungkapan di SPK, laporan perubahan ekuitas, dan catatan atas laporan keuangan.

i.    Kepentingan nonpengendali disajikan sebagai bagian dari ekuitas.

j.     Terdapat amar untuk mengidentifikasi nama entitas pelapor, nama statemen, dan tanggal statemen.
k.   SPK harus menyatakan mata uang pelaporan dan angka pembulatan (ribuan atau jutaan, misalnya).

l.     Keharusan menyajikan informasi kuantitatif komparatif.

m.  Keharusan mengungkapkan kembali informasi komparatif yang bersifat naratif dan deskriptif laporan keuangan perioda sebelumnya jika hal itu dapat menambah pemahaman laporan keuangan perioda berjalan.


b.   Statemen aliran kas (SAK):

a.  Nama cash flow statement (laporan arus kas) diganti dengan statement of cash flow.

b.  Sama klasifikasi aliran kasnya: operasi, investasi, dan pendanaan.

c.   Aliran kas dari dan untuk operasi dapat disusun dengan metoda langsung dan metoda taklangsung. FASB dan IASB menganjurkan metoda langung. tidak ada perbedaan.

d.  Arus kas dari bunga dan dividen baik yang dibayar maupun yang diterima, masing-masing diungkapkan secara terpisah. Arus kas tersebut dapat diklasifikasi sebagai operasi, investasi, dan pendanaan asalkan konsisten.

e.   Pembayaran pajak diungkapkan secara terpisah dan diklasifikasi sebagai aktivitas operasi kecuali jika secara spesifik dapat diidentifikasikan sebagai aktivitas pendanaan dan investasi.

f.    Untuk metoda taklangsung, starting point bisa menggunakan laba bersih ataupun laba sebelum pajak.
g.   Transaksi nonkas untuk investasi dan pendanaan tidak dilaporkan di laporan aliran kas, tetapi diungkapkan di bagian lain dalam laporan keuangan

III. Simpulan

Adopsi dan implementasi standar pelaporan keuangan internasional (International Financial Reporting Standards) di Indonesia membawa konsekuensi yang jelas. Pertama, standar IFRS yang baru menuntut dilakukannya perubahan di praktik-praktik akuntansi yang sudah ada, terutama terkait dengan pengembangan standar berbasis prinsip (principle-based) dan pengukuran berbasis nilai wajar (fair value). Standar sebelumnya lebih mendasarkan pada pengembangan berbasis aturan (rules-based) dan pengukuran berbasis biaya historis (historical cost). Kedua, pembelajar harus pula mempelajari IFRS yang merupakan bentuk kesepakatan baru yang diterima oleh banyak negara dan pelaku bisnis.

Hampir di setiap pokok bahasan diperlukan modifikasi signifikan sebab memang banyak perbedaan antara IFRS dan U.S. GAAP. Untuk menghadapai perubahan standar yang sedang terjadi, mahasiswa harus dibekali dengan IFRS meskipun, mereka belum tentu akan bekerja di perusahaan go public setelah lulus dari S1 akuntansi. Hal ini menyebabkan, lembaga pendidikan akuntansi harus menyiapkan mereka agar

siap menghadapi perubahan. Untuk itu kesiapan tenaga pengajar yang memahami konvergensi IFRS sangat diperlukan untuk mewujudkan pembelajaran akuntansi yang berbasiskan IFRS. Hal ini memerlukan komitmen dan kerja sama tim pengajar di masing-masing institusi.
Akhirnya, harapan pembelajaran yang memperhatikan tuntutan IFRS adalah agar pembelajar memiliki pengetahuan memadai di bidang akuntansi yang berlaku di dunia praktik, yang selanjutnya berperan sebagai salah satu pihak yang membawa perubahan di


dunia praktik, karena sudah seharusnya dunia praktik mengikuti dunia akademik, dan bukan sebaliknya (Soni Warsono, makalah, IFRS dan Akuntansi)

Referensi

Lampiran I :
Journal of International Business Research. 10.S3 (Dec. 2011): pSSS35. From InfoTrac Business and Economics Collection 2017.
Lampiran II :
The state of FASB’ssampification initiative toward a simpler GAAP By: Jefferson P. Jones
Copyright: COPYRIGHT 2011 Jordan Whitney Enterprises, Inc.
AL Haryono Jusup, Dasar-Dasar Akuntansi , Jilid I, Bagian Penerbitan STIE YKPN, Yogyakarta, 2001

Boediono, Indonesia Siap Terapkan IFRS, artikel, Jurnal Akuntan Indonesia Edisi 01 Juli 2011, IAI, 2011

Hepiprayudi, IFRS What”s That, hepiprayudi.wordpress.com/2009/10/04, diakses 25 September 2011
Ikatan Akuntan Indonesia, Standar Akuntansi Keuangan, Penerbit Salemba Empat, Jakarta, 2002

Ikatan Akuntan Indonesia, Standar Akuntansi Keuangan Entitas Tanpa Akuntabilitas Publik (SAK ETAP) , DSAK IAI, Jakarta, 2009

Slamet Sugiri, Materi Bahasan Akuntansi Keuangan Berbasis IFRS, artikel.

Suwardjono, Akuntansi Pengantar 1 Proses Penciptaan Data dan Pendekatan Sistem, Edisi ketiga, BPFE Yogyakarta, 2009

Soemarso S R, Akuntansi Suatu Pengantar, Buku Satu, Rineka Cipta, Jakarta, 1999

Soni  Warsono,  Reformasi Akuntansi Membongkar Bounded Rationality,  Asgard  Chapter,

2010

________, IFRS dan Akuntansi, Makalah, disajikan dalam Workshop Akuntansi Pengantar Berbasis IFRS di P2EB FEB UGM Yogyakarta, 2011

Warren Reeve Fess, Accounting Pengantar Akuntansi, Buku Satu, Edisi 21, Penerbit Salemba Empat, Jakarta, 2005

Weygant,Kimmel, Kieso, Financial Accounting IFRS Edition, Copyright © 2011 John Wiley & Sons, Inc, 2011

______PengertianIFRS,htpp.warta_ekonomi.blogspot.com/2010/11/pengertian_IFRS.html, diakses tanggal 24 September 2011


______Jurnal Akuntan Indonesia, edisi no 17, Juni, 2009 dalam hepiprayudi.wordpress.com/2009/10/04, diakses 25 September 2011)